1. Rekomendasi Wisata

5 Tempat Bersejarah di Palembang yang Cocok untuk Berwisata

Palembang terkenal sebagai salah satu kota bersejarah di Indonesia, mulai terkenal sebagai ibukota Kerajaan Sriwijaya sampai tempat singgahnya Laksamana Cheng Ho. Oleh karena itu, Advontura kali ini akan memberi kamu rekomendasi tempat bersejarah di Palembang yang cocok untuk kamu kunjungi sebagai tempat wisata. Seperti apa kira-kira? Yuk ikuti pembahasan Advontura kali ini!

Masjid Al Islam Muhammad Cheng Ho

Rekomendasi tempat bersejarah di Palembang versi Advontura yang pertama adalah Masjid Al Islam Muhammad Cheng Ho. Masjid satu ini cukup terkenal di kalangan umat muslim sebagai tempat untuk beribadah. Di samping itu, ternyata tempat religius ini menjadi daya tarik tersendiri dari Palembang. 

Pasalnya, masjid yang lebih banyak orang sebut sebagai Masjid Cheng Ho ini mengambil gaya arsitektur khas etnis Tionghoa dan Melayu. Gaya ini terbilang unik mengingat kebanyakan masjid di Indonesia biasanya mengambil gaya arsitektur lokal dan Arab.

Sumber: Wikipedia

Dengan warna eksterior merah, hijau, dan putih, masjid satu ini menjadi salah satu tempat bersejarah di Palembang yang wajib orang-orang kunjungi. Terlebih lagi, menara di kedua sisi masjid meniru klenteng-klenteng di Cina, dengan cat warna merah dan hijau giok. Maka dari itu, masjid satu ini terkenal sebagai simbol pluralisme di Kota Palembang. 

Menurut sejarah, masjid ini berdiri atas prakarsa pengurus Persatuan Islam Tionghoa Indonesia dan serta tokoh masyarakat Tionghoa di sekitar Palembang. Modal awal pembangunan masjid itu sekitar Rp150 juta dari hasil dana organisasi. 

Tanah tempat masjid berdiri merupakan hibah dari pemerintah daerah dan baru diresmikan pada 2006. Lokasi Masjid Muhammad Cheng Ho berada di Jalan Pangeran Ratu No 15, Perumahan Top Atlit, Kec. Seberang Ulu I, Kota Palembang.

Jembatan Ampera

Jika kamu berkunjung ke Palembang tanpa mengunjungi Jembatan Ampera, artinya kamu belum benar-benar mampir ke Palembang. Jembatan Ampera adalah salah satu tempat bersejarah di Palembang yang sekaligus menjadi lambang utama dari kota pempek ini. 

Awalnya, pemerintah sudah merencanakan Jembatan Ampera di Palembang pada tahun 1924 tetapi tidak pernah terealisasi. Pada 1956, usulan kembali muncul, meskipun anggaran yang tersedia sangat terbatas. 

Sumber: Wikipedia

Berkat usaha Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Kodam IV/Sriwijaya, Presiden Soekarno akhirnya mendukung pembangunan jembatan ini dengan syarat menambahkan boulevard di kedua ujungnya. Kontrak pembangunan ditandatangani pada 1961 dengan biaya sekitar USD 4.5 juta.

Pembangunan mulai pada 1962 dan mengambil dana dari dana pampasan perang Jepang. Jembatan ini awalnya memiliki nama Jembatan Bung Karno sebagai penghargaan kepada Presiden RI pertama yang mendukung pembangunan jembatan ini. Namun, setelah pergolakan politik pada 1966, namanya berubah menjadi Jembatan Ampera. 

Meskipun pernah ada wacana untuk mengembalikan nama Bung Karno, usulan ini tidak mendapat dukungan pemerintah dan sebagian masyarakat. Pada 1965, Jembatan Ampera resmi berdiri dan menjadi jembatan terpanjang di Asia Tenggara.

Setelah berlangsungnya Asian Games 2018, Jembatan Ampera menjalani proses renovasi yang menjadikannya lebih kokoh dan memiliki gaya lebih modern. Lokasinya sendiri terletak di Jl. Mayjen. H. M. Ryacudu.

Museum Balaputra Dewa

Museum Balaputra Dewa terletak di Jalan Srijaya No. 01, RW. 05, Srijaya, Kecamatan Alang-alang Lebar, Palembang. Museum ini adalah salah satu dari Museum Negeri Indonesia yang mewakili provinsi Sumatera Selatan.

Sumber: Wikipedia

Pembangunan museum mulai pada tahun 1978 dan diresmikan pada tanggal 5 November 1984. Nama “Balaputra Dewa” dipilih merujuk pada sejarah India abad ke-9, di mana seorang berdaulat bernama Balaputra tercatat dalam prasasti yang ditemukan di Nalanda, India. 

Prasasti Nalanda ini mengisahkan tentang hubungannya dengan mendirikan sebuah biara Buddha di bawah sponsornya, dan namanya juga terkait dengan peristiwa di Jawa pada abad ke-9 yang berkaitan dengan penguasaan Rakai Pikatan, seorang penguasa dari dinasti Sanjaya. Balaputra meminta Rakai Pikatan untuk meninggalkan Jawa dan menetap di wilayah yang sekarang menjadi kota Palembang, Sumatera Selatan.

Museum ini memiliki koleksi yang mencakup berbagai periode sejarah, termasuk masa pra-sejarah, Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Palembang, dan masa kolonialisme Belanda. Tidak hanya itu, Museum Balaputera Dewa juga menjadi ikonik karena diabadikan dalam gambar pada uang pecahan Rp10.000 yang beredar di Indonesia mulai tahun 2005 hingga 2010.

Kampung Kapitan

Palembang memiliki sejarah dan budaya yang kaya, dan salah satu aspek menariknya adalah kehadiran komunitas Tionghoa yang telah ada sejak tahun 1664. Komunitas Tionghoa ini membentuk sebuah kampung di Palembang yang dikenal sebagai Kampung Kapitan.

Sumber: Wikipedia

 

Di Kampung Kapitan ini, kamu dapat menjelajahi bangunan bersejarah khas Tionghoa seperti klenteng dan peninggalan lainnya. Yang menarik, tidak semua bangunan di kampung ini memiliki nuansa Tionghoa. Kamu juga akan menemukan bangunan dengan gaya arsitektur Barat dan rumah-rumah tradisional masyarakat Palembang dari masa lalu.

Selain pesona arsitekturnya, kamu juga dapat merasakan kelezatan kuliner di kampung ini. Kamu akan berkesempatan untuk menikmati makanan khas Palembang dan Tionghoa dalam satu lokasi. Untuk mencapai Kampung Kapitan, kamu dapat menggunakan perahu getek dari daerah Benteng Kuto Besak atau melalui jalur darat.

Benteng Kuto Besak 

Benteng Kuto Besak terletak di tepi Sungai Musi, tepatnya di Jalan Sultan Mahmud Badarudin, Bukit Kecil, Palembang. Letaknya yang strategis, dekat dengan pusat kota Palembang, hanya sekitar 4 km, membuatnya dapat kamu jangkau dalam waktu sekitar 15 menit. Untuk berkunjung ke tempat bersejarah di Palembang ini, pengunjung perlu membeli tiket masuk dengan harga sebesar Rp5.000.

Sumber: Wikipedia

Berdiri sejak tahun 1780, Benteng Kuto Besak telah mengalami renovasi dan kini memiliki sebuah alun-alun yang terletak di depannya. Alun-alun tersebut telah menyediakan fasilitas penunjang, termasuk kursi taman, beragam penjual makanan, dan layanan penyewaan perahu untuk pengunjung yang ingin menjelajahi Sungai Musi.

Benteng Kuto Besak awalnya adalah sebuah bangunan keraton yang pada abad ke-18 menjadi pusat Kesultanan Palembang. Konsep pembangunan Benteng Kuto Besak pertama kali muncul berkat Sultan Mahmud Badaruddin I, yang memerintah dari tahun 1724 hingga 1758. 

Pelaksanaan pembangunan ini kemudian diselesaikan oleh penerusnya, Sultan Muhammad Bahauddin, yang memerintah dari tahun 1776 hingga 1803. Sultan Mahmud Bahauddin terkenal sebagai tokoh yang realistis dan praktis dalam hal perdagangan internasional, serta sebagai seorang agamawan yang menjadikan Palembang sebagai pusat sastra agama di Nusantara.

Sebagai tanda peranannya sebagai sultan, Ia memindahkan pusat pemerintahan dari Keraton Kuto Lamo ke Kuto Besak. Belanda menyebut Kuto Besak sebagai nieuwe keraton, yang berarti “keraton baru.”

Baca Juga: 10 Tempat Wisata di Palembang yang Lagi Hits dan Terkenal

Demikian pembahasan Advontura mengenai 5 tempat bersejarah di Palembang yang cocok kamu kunjungi untuk berwisata. Yuk, kunjungi tempat-tempat di atas supaya kamu makin tahu dan belajar banyak tentang sejarah dan warisan Indonesia.

Tidak ada komentar

Komentar untuk: 5 Tempat Bersejarah di Palembang yang Cocok untuk Berwisata

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    ARTIKEL TERBARU

    Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) memiliki pemandangan hutan yang terkenal alami dengan udara yang segar. Jika berencana untuk berlibur ke sana dalam waktu dekat, kamu harus mengexplore Jembatan Gantung Sukabumi atau Jembatan Gantung Situ Gunung. Seperti apa kira-kira? Yuk simak informasi selengkapnya mengenai Jembatan Gantung Sukabumi ini, hanya di Advontura! Lokasi Jembatan Gantung Sukabumi […]
    Bandung selalu menjadi primadona untuk orang kunjungi ketika masa liburan. Berbagai jenis tempat wisata dapat kamu temukan di segala penjuru kota. Kali ini, Advontura akan memberi kamu beberapa rekomendasi tempat wisata di Bandung yang gratis. Penasaran apa saja? Yuk, baca artikel berikut untuk mengetahui lebih tentangnya. 1. Jalan Braga Pertama, ada Jalan Braga. Banyak bangunan […]

    Trending

    Kurangnya tempat terbuka hijau menjadi penyebab utama banjir di Jakarta. Salah satu langkah yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta adalah membangun beberapa waduk yang berfungsi bukan hanya sekadar sebagai kawasan hijau tapi bisa juga sebagai tempat wisata alam di Jakarta.  Waduk Pondok Ranggon ini terletak di Kelurahan Pondok Ranggon, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Buat […]
    Waduk tidak hanya berperan sebagai penyedia air untuk kebutuhan irigasi, tetapi juga menjadi magnet para wisatawan sekaligus para pemancing. Contohnya, Waduk Gonggang yang terletak di kaki Gunung Lawu. Waduk ini tidak hanya memiliki fungsi sebagai sumber perairan warga sekitar, tetapi juga tempat wisata yang sayang untuk kamu lewatkan. Kira-kira apa saja yang membuat wisatawan berkunjung […]
    Umbul Bening Waterpark merupakan salah satu wisata yang wajib kamu kunjungi jika berwisata ke Banyuwangi. Tempatnya yang asri dan menenangkan membuat siapapun yang berwisata merasa tersegarkan kembali. Kali ini, Advontura akan membahas tentang Umbul Bening Waterpark. Simak informasi selengkapnya di artikel kali ini! Tentang Umbul Bening Umbul Bening merupakan destinasi wisata berkonsep waterpark yang terletak […]