Advontura – Platform Informasi Tempat Wisata Seru untuk Traveller

Share :

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Masjid Agung Demak – Sejarah & Arsitekturnya yang Menarik

Sebagai salah satu masjid tertua di Pulau Jawa, Masjid Agung Demak selalu punya sisi menarik yang tak pernah bosan untuk dibahas. Kental akan nilai historis serta arsitekturnya yang menarik, turut membuat masjid ini dikenal sebagai salah satu wisata religi paling terkenal.

Tak hanya didapuk sebagai salah satu pusaka terpenting tanah Jawa, ternyata masih banyak hal menarik lainnya yang dapat dibahas lebih lanjut. Apa saja? Yuk simak ulasan lengkap Advontura kali 

Sejarah Masjid Agung Demak

Masjid yang terletak di Kampung Kauman, Kelurahan Bintoro, Demak, Jawa tengah,  persis di alun-alun dan pusat keramaian ini didirikan oleh Raden Patah pada abad ke 15 tepatnya di tanggal 1 Shafar tahun 1401 Saka.

Sejarah Masjid Demak diyakini bermula dari adanya keinginan untuk menyucikan sekitar kawasan tersebut dari sisa-sisa pengaruh Hindu-Buddha Kerajaan Majapahit. Hal itu terlihat dari arsitekurnya yang kuat akan nuansa Hindu dengan modifikasi nuansa Islam.

Bahkan menurut catatan sejarah, Masjid Agung Demak dipercayai sebagai tempat berkumpulnya para ulama dan wali songo yang menyebarkan agama Islam di Nusantara. Oleh sebab itu, sampai sekarang Demak dikenal sebagai salah satu lokasi awal tempat bertumbuhnya Islam di Pulau Jawa.

Jauh sebelum sejarah Masjid Demak dimulai, ternyata Sunan Ampel telah menjadikan kawasan di sekitarnya sebagai pusat pengajaran agama Islam. Selanjutnya, Masjid Demak berkembang menjadi pusat peradaban Islam serta simbol kekuasaan Raja-Raja Islam di Pulau Jawa berkat tangan Sunan Kalijaga.

Arsitektur Masjid Agung Demak

Masjid Agung demak
Photo by indonesiakaya.com

Sekilas, gaya arsitektur Masjid Agung Demak memang tampak menyerupai tempat peribadatan umat Hindu. Tak hanya itu, bila diperhatikan, tampak banyak simbol serta makna yang sarat akan nilai historis di berbagai detail arsitektur Masjid Demak. 

Bentuk atapnya yang ikonik dipercayai sebagai wujud akulturasi serta toleransi masjid atas para pemeluk Hindu. Atap masjid berbentuk limas yang disusun berundak tiga menggambarkan Iman, Islam, dan Ihsan sebagai akidah Islam.

Arsitektur Masjid Demak juga memiliki simbol unik, yakni bulus, atau kura-kura berpunggung lunak. Hal itu tampak dari adanya berbagai ornamen bergambar bulus di sepanjang dinding masjid. 

Bulus sendiri menggambarkan tahun berdirinya masjid ini yaitu 1401 Saka. Kepala bulus bermakna 1, empat kaki bulus berarti 4, bentuk bulat dari badan bulus bermakna 0, dan ekor bulus berarti 1.

Sebelum dimuseumkan, keunikan arsitektur Masjid Demak turut ditunjukkan melalui Pintu Bledeg. Pintu yang dibuat oleh Ki Ageng Selo ini  dipenuhi banyak ukiran cantik bergambar dua kepala naga yang terbuat dari kayu jati dan digunakan sebagai anti petir.

Gambar dua kepala naga yang terdapat di pintu berasal dari prasasti Condro Sengkolo, bermakna penanda waktu yang berbunyi “Nogo Mulat Saliro Wani”. Ungkapan tersebut mengandung makna tahun 1388 Saka, atau 887 Hijriah, atau 1466 Masehi.

Pada gambar Masjid Agung Demak dahulu kala, pasti terlihat jika ada empat saka tatal atau saka guru yang merupakan tiang utama dari masjid ini. Keempat saka ini dibuat dari ikatan serpihan-serpihan kayu yang masing-masing dibuat oleh Sunan Bonang, Sunan Ampel, Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunun Jati yang kini telah dimuseumkan

Pada bagian terasnya, arsitektur Masjid Demak tampak kokoh dengan topangan delapan buah saka atau tiang. Kedelapan tiang ini kemudian disebut Saka Majapahit. Sikap perlawanan dan keberanian Demak atas Majapahit pada saat itu juga tampak ditunjukkan di masjid ini lewat mustakanya yang berbentuk runcing.

Baca juga: Masjid Istiqlal Jakarta: Keistimewaan, Lokasi, dan Sejarahnya

Bangunan Sekitar Masjid Demak

Photo by qoobah.co.id

Selain bangunan utama, ada beberapa bangunan yang juga biasa dikunjungi wisatawan saat berkunjung ke Masjid Demak. Berikut diantaranya.

Makam Kesultanan Demak

Selain kaya akan sejarah, Masjid Demak rupanya juga terletak dekat dengan kompleks makam Kesultanan Demak. Oleh sebab itu, para wisatawan bisa sekaligus berziarah ke makam setelah beribadah di masjid ini. Biasanya, mayoritas pengunjung yang datang tergabung dalam satu rombongan ziarah Wali Songo.

Situs Kolam Wudhu

Kolam berukuran 10×25 meter yang terletak di samping depan masjid ini diyakini sebagai tempat berwudhu para ulama serta Wali Songo dahulu kala. Ada tiga batu dengan ukuran berbeda yang akan Sobat Advontura lihat saat mengunjungi kolam wudhu ini.

Museum Peninggalan Wali Songo

Ada satu tempat lagi yang biasa dikunjungi para pelancong apabila berwisata ke masjid ini. Terletak persis di samping masjid, museum peninggalan Wali Songo ini juga berisikan berbagai pusaka sepanjang sejarah Masjid Agung Demak.

Selain koleksi utama berupa peninggalan Wali Songo seperti saka tatal, sirap, bedug, dan kentongan, museum ini juga menyimpan maket masjid tahun 1845-1864 Masehi, Al-Qur’an tulisan tangan, pintu bledeg, prasasti kayu berangka 1344 Saka, serta hasil gambar Masjid Agung Demak tempo dulu, dan lain sebagainya.

Itulah beberapa fakta menarik seputar sejarah, arsitektur, dan gambar Masjid Agung Demak. Usianya kini telah menginjak lima abad dan dilindungi undang-undang sebagai salah satu cagar budaya. Semoga ulasan ini bermanfaat bagi Sobat Advontura yang tertarik berkunjung ya!

Baca juga: Masjid Agung Palembang – Sejarah, Alamat dan Hotel

0

Artikel Terkait