Berwisata ke Desa Wae Rebo, Surga di Timur Indonesia

Keindahan Desa Wae Rebo (sumber: Instagram)
Keindahan Desa Wae Rebo (sumber: Instagram)
Wae Rebo merupakan desa di NTT dengan daya tarik rumah kerucutnya. Penasaran dengan apa saja keunikan desa ini? Berikut informasi lengkapnya.
Daftar isi

Indonesia memiliki beragam tempat wisata yang indah dan menarik untuk dikunjungi. Tempat-tempat tersebut menyimpan suatu keunikan yang menjadikannya daya tarik bagi para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. 

Keunikan tersebut salah satunya dapat tergambar dari sebuah bangunan. Rumah adat Desa Wae Rebo merupakan ikon dari desa tersebut. Namun, selain rumah adat desa ini juga memiliki keunikan-keunikan lainnya yang sayang untuk dilewatkan. Penasaran apa saja hal unik tersebut, Simak artikel ini sampai habis ya! 

Menikmati Keindahan dari Atas Awan Desa Wae Rebo

Desa Wae Rebo, Surga diatas Awan (Sumber: @onta.apps on Instagram)
Desa Wae Rebo, Surga diatas Awan (Sumber: @onta.apps on Instagram)

Desa ini pernah menerima sebuah penghargaan sebagai Top Award of Excellence yang diselenggarakan oleh UNESCO pada Asia Pacific Heritage Awards 2012. Penghargaan ini didapatkan oleh Desa Wae Rebo karena telah berhasil melakukan revitalisasi dengan tetap menjaga keaslian dan menghargai proses pembangunan tradisional. 

Pendiri pertama Desa Wae Rebo ini adalah Empu Maro. Desa tersebut ia bangun sekitar 100 tahun yang lalu. Kemudian penduduk lokal melestarikannya hingga sekarang sudah mencapai turunan generasi ke-18. 

Desa Wae Rebo terletak di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tepatnya di Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai. Berdiri di ketinggian 1.200 meter diatas permukaan laut menjadikan desa ini memiliki keindahan menawan layaknya “Surga Diatas Awan”.

Artikel Terkait

Saat pagi dan sore hari, desa ini akan diselimuti kabut. Meskipun terdapat kabut yang menyelimuti, hal ini justru membuat pemandangan semakin indah dan menakjubkan. Berlokasi jauh dari perkotaan menjadikannya memiliki udara yang sejuk dan juga segar. 

Selain memiliki udara yang sejuk, desa ini juga mempunyai sebuah hutan yang bernama Hutan Todo. Banyak vegetasi yang tumbuh disekitar sehingga tidak heran jika hutan tersebut terlihat rindang. 

Daya Tarik Wisata Desa Wae Rebo

Desa Wae Rebo beserta Daya Tariknya (Sumber: @seputarntt on Instagram)
Desa Wae Rebo beserta Daya Tariknya (Sumber: @seputarntt on Instagram)

Apa keunikan Desa Wae Rebo sehingga banyak wisatawan datang mengunjungi? 

Desa Wae Rebo memiliki sebuah daya tarik berupa rumah adat tinggi berbentuk kerucut yang tertutup ilalang dari atap hingga ke tanah. Masyarakat setempat menyebut rumah adat ini dengan “Mbaru Niang”. 

Sedikitnya terdapat 6 kepala keluarga yang menghuni Rumah adat Desa Wae Rebo ini. Satu keluarga akan mengisi satu kamar. Ketika anak sudah menginjak usia diatas lima tahun, anak-anak tersebut akan tidur di area komunal di luar kamar. 

Mbaru Niang terdiri dari lima tingkat yang mana setiap tingkatnya memiliki tujuan tertentu. Tingkat pertama memiliki sebutan lutur atau tenda merupakan tempat tinggal keluarga besar. Tingkat kedua disebut dengan lobo atau loteng digunakan untuk menyimpang barang dan makanan. 

Tingkat ketiga disebut lentar merupakan tempat penyimpanan benih yang akan digunakan saat musim tanam berikutnya. Tingkat keempat disebut dengan lempa rae adalah tempat penyimpanan makanan apabila terjadi kekeringan. Kemudian tingkat kelima disebut hekang kode, juga dianggap paling suci. Sebab merupakan tempat persembahan untuk leluhur. 

Terdapat rumah adat Desa Wae Rebo yang dikhususkan yaitu rumah utama. Dihuni oleh 8 keluarga rumah utama merupakan tempat penyambutan para tamu. Upacara penyambutan dilakukan dengan menggunakan bahasa Manggarai. 

Para wisatawan diminta untuk tidak mengambil foto sampai upacara kedatangan dilakukan oleh kepala desa. Selain itu, terdapat beberapa pantangan yang harus dipatuhi seperti tidak menginjak batu-batu untuk upacara dan para pendatang dihimbau untuk selalu menjaga kebersihan dan menghargai alam sekitar. 

Desa Wae Rebo mengambil seluruh aliran listriknya dari energi matahari melalui genset atau solar panel. Listrik hanya akan tersedia dari jam 6 pagi sampai 10 malam sehingga diatas dari jam tersebut desa akan gelap. Namun inilah saat yang paling ditunggu, para wisatawan dapat menikmati langit berbintang dan jika beruntung akan terlihat milky way meskipun dengan mata telanjang. 

Apa keunikan Desa Wae Rebo hanya sebatas itu saja? Oh tentu saja tidak Advonturers! 

Masyarakat desa sebagian besar berprofesi sebagai petani, sementara para wanita nya membuat tenun. Para wisatawan juga bisa belajar menenun yang akan dibantu oleh para penduduk desa yang ramah. 

Apabila datang pada bulan November, akan melihat Upacara Adat Penti. Hal ini dilakukan sebagai ucapan rasa syukur atas hasil panen yang didapatkan dalam waktu setahun. Selain itu, para penduduk juga memohon keharmonisan dan perlindungan bagi masyarakat setempat. 

Pada saat upacara, para penduduk akan menggunakan pakaian adat lengkap beserta aksesorisnya yang mana mereka juga akan melakukan sejumlah atraksi yang sarat akan makna dan nilai budaya. 

Fasilitas di Desa Wae Rebo

Desa Wae Rebo dan Fasilitasnya (Sumber: @sandradewimok on Instagram)
Desa Wae Rebo dan Fasilitasnya (Sumber: @sandradewimok on Instagram)

Desa Wae Rebo memiliki 7 Mbaru Inang. Warga setempat menjadikan 3 dari rumah adat tersebut sebagai tempat untuk para wisatawan menginap. Pemugaran dan penambahan fasilitas tersebut dilakukan pada tahun 2010. 

Danone Indonesia, Laksamana Sukardi, Arifin Panigoro dan Tirto Utomo Foundation adalah donatur pendukung terjadinya pembangunan tersebut. Hal ini dilakukan sebagai bentuk konservasi kepada salah satu world heritage lindungan UNESCO. 

Pada siang hari, para wisatawan dapat mengunjungi dan menikmati kebun milik penduduk yang mana tanamannya antara lain kopi, vanili, dan kayu manis. Warga akan menjual tanaman-tanaman ini ke pasar yang jaraknya sekitar 15 km dari desa. 

Makanan penduduk desa adalah singkong dan jagung. Namun desa ini juga menyajikan menu makanan lain yang tersedia sebanyak 3 kali: pagi, siang, malam. Menu-menu tersebut antaralain nasi putih, tahu, tempe, telur dadar, mie goreng dan sambal ulek pedas. Selain itu, para wisatawan juga bisa mencicipi kopi khas nya yang cukup terkenal. 

Penduduk desa tidak ada yang memakan binatang, jadi hewan-hewan ternak yang berada disekitar rumah tidak ada satupun yang dimakan melainkan hanya untuk ternak. Apabila menginginkan menu makanan lain, disarankan untuk membawa nya sendiri. 

Selain itu, tersedia juga fasilitas umum lainnya seperti: 

  • Area Parkir 
  • Balai Pertemuan
  • Jungle Tracking 
  • Kamar Mandi Umum
  • Kios Souvenir 
  • Kuliner 
  • Selfie Area
  • Spot Foto 
  • Tempat Makan

Harga Tiket dan Penginapan di Desa Wae Rebo

Penginapan dan Harga Tiket di Desa Wae Rebo (Sumber: @melanesiatour_ on Instagram)
Penginapan dan Harga Tiket di Desa Wae Rebo (Sumber: @melanesiatour_ on Instagram)

Mengunjungi Desa Wae Rebo memerlukan beberapa transportasi yang memiliki tarif-tarif tertentu. Berikut rincian harga penggunaan transportasi: 

  • Ojek dari Ruteng ke Desa Renge: Tarif sekitar Rp150.000-Rp200.000
  • Truk Kayu dari Ruteng ke Desa Renge: Tarif sekitar Rp30.000

Untuk jam buka desa ini adalah 24 jam dan dibuka setiap hari. Para wisatawan dapat mengunjungi desa ini kapan saja. 

Saat berkunjung ke Desa Wae Rebo sangat sayang jika tidak menginap. Sebab di desa ini kalian akan menikmati sensasi tinggal di sebuah desa adat tradisional. Selain hawa dan panorama yang sangat memanjakan, para wisatawan juga dapat memperoleh pengalaman wisata budaya yang menakjubkan. 

Oleh karena itu, Advontura akan membagikan rincian biaya penginapan yang bisa menjadi acuan saat mengunjungi desa tersebut. Berikut rincian biayanya: 

Keterangan Harga 
Tiket masuk (tidak menginap) Rp200.000
Porter Gunung Rp250.000
Biaya penginapan di desa adat Rp325.000/orang 

Berikut merupakan acuan budget yang bisa Advonturers siapkan. Dengan biaya tersebut, para wisatawan akan mendapatkan fasilitas seperti tempat tidur massal di ruang utama, kamar mandi, dan pencahayaan berupa genset atau solar cell. 

Sebagai pengingat harga-harga tersebut sewaktu-waktu bisa berubah, agar mengetahui informasi terbaru para calon wisatawan dapat mengecek di website tour and travel yang menawarkan berwisata di desa tersebut. 

Rute Menuju Desa Wae Rebo

Desa Wae Rebo dan Rute Perjalanan nya (Sumber: @hendylie on Instagram)
Desa Wae Rebo dan Rute Perjalanan nya (Sumber: @hendylie on Instagram)

Julukan “Surga Diatas Awan” memang sangat cocok diberikan kepada Desa Wae Rebo. Sebab desa ini terletak di atas gunung Ruteng yang mana membutuhkan waktu pendakian 2 jam. Butuh kesiapan mental dan fisik yang prima jika ingin berwisata kesini. 

Untuk sampai ke Desa Wae Rebo, pertama kalian harus mengunjungi Labuan Bajo. Para wisatawan bisa beristirahat terlebih dahulu karena banyak penginapan murah hingga mewah tersedia di daerah ini. 

Lalu, melanjutkan perjalanan ke Ruteng yang dapat menggunakan travel atau menyewa kendaraan. Tarif travel berkisar Rp100.000 sampai Rp300.000 per orang. Sementara tarif menyewa mobil sekitar Rp500.000-Rp700.000 per hari. Perjalanan dari Labuan Bajo ke Ruteng membutuhkan waktu 3-4 jam. 

Jika ingin lebih cepat bisa menggunakan motor dari Labuan Bajo ke Denge. Perjalanan menggunakan motor akan melewati Lembor, disana terdapat sebuah jembatan yang hanya bisa dilalui motor. Perjalanan Labuan Bajo-Denge via Lembor hanya membutuhkan waktu 3 jam. 

Dari Ruteng kalian bisa naik ojek ke Desa Denge dengan harga Rp150.000-Rp200.000 untuk sekali jalan. Perjalanan dari Ruteng-Desa Denge membutuhkan waktu 3-4 jam. Sesampainya di Desa Denge para wisatawan harus berjalan kaki menuju Desa Wae Rebo. 

Saat sampai Desa Denge, kalian bisa bertanya ke penduduk setempat, nanti mereka akan mengantarkan kalian menuju pos pertama. Dari pos 1 para wisatawan akan melakukan trekking karena akses jalannya hanya berupa jalan setapak. Jarak pos 1 ke pos 2 membutuhkan waktu 2-3 jam karena untuk mencapai desa perlu melewati area hutan yang medannya cukup terjal. 

Sebelum masuk ke desa, kalian akan menemukan rumah kasih ibu. Pada Tempat tersebut para wisatawan  diminta untuk membunyikan kentongan sebagai tanda ada tamu yang akan berkunjung. Kemudian perjalanan berlanjut menuju Desa Wae Rebo yang akan ditempuh selama satu jam. Para penduduk dan pemuka adat akan menyambut kedatangan para wisatawan setibanya di desa. 

Baca Juga: 8 Wisata Lombok Timur Paling Hits dan Keindahan Panorama Alamnya

Demikian informasi tentang Desa Wae Rebo yang Advontura sudah rangkum. Apakah kalian tertarik untuk mengunjungi desa adat tersebut? Jangan lupa siapkan mental dan fisik yang prima ya! 

ADVERTISEMENT

Rekomendasi buat Anda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *