Danau Kelimutu, Pesona Danau 3 Warna asal Flores yang Indah

Danau Kalimutu
Photo by plesirankotatua.blogspot.com
Daftar isi

Tidak hanya wisata bersejarah, Indonesia memiliki berbagai macam wisata alam yang keindahanya begitu memukau. Salah satu wisata alam yang keindahannya telah tersohor di seluruh pelosok Indonesia adalah Danau Kelimutu.

Asal usul Danau Kelimutu berasal dari gabungan kata “Keli” yang memiliki arti gunung dan “Mutu” yang berarti mendidih. Keindahan Danau Kelimutu terletak di warna air danaunya yang terdiri dari tiga warna berbeda.

Karena hal tersebut Danau Kelimutu dikenal dengan nama Danau tiga warna. Bahkan keindahan Danau ini sempat dijadikan sebagai gambar pada nominal uang kertas Rp 5000 yang terbit pada tahun 1992. Bagi pecinta dunia fotografi mengunjungi Danau Kelimutu merupakan pilihan yang tepat.

Indahnya panorama alam yang ada di setiap sudut kawasan danau benar – benar memukau dan sayang untuk dilewatkan begitu saja. 

Letak Danau Kelimutu terdapat di provinsi Nusa Tenggara Timur, tepatnya di desa Woloara, Kec. Kelimutu, Kab. Ende, NTT. Untuk memasuki kawasan danau, pengunjung akan melewati Labuan Bajo sebagai gerbang utamanya.

Artikel Terkait

Perjalanan yang ditempuh untuk mencapai Ende dari Labuan Bajo akan memakan waktu kurang lebih 9 jam. Karena lokasi yang ditempuh jauh, kondisi prima sangat dibutuhkan jika berencana mengunjungi kawasan Kelimutu.

Jika ingin lebih cepat, wisatawan dapat melewati jalur udara menuju Kupang. Setelah sampai Kupang perjalanan akan dilanjutkan menuju Ende. Perjalanan dari Ende menuju Kelimutu memakan waktu 4 jam.

Perjalanan tersebut memakan waktu yang lebih singkat namun akan membutuhkan biaya yang lebih besar jika dibandingkan dengan perjalanan darat melewati Labuan Bajo. Namun lelahnya perjalanan akan terbayar jika sudah sampai di kawasan Kelimutu.

Pengunjung akan melihat keindahan alam berupa Gunung yang menjulang tinggi dan Danau Kelimutu yang mempesona. Untuk menikmati keindahan danau, pengunjung akan dikenai biaya masuk sebesar Rp 7500 untuk wisatawan lokal, dan Rp 150.000 hingga Rp 250.000 untuk wisatawan mancanegara.

Sejarah Danau Kelimutu

Seperti halnya tempat wisata alam lain, Danau Kelimutu memiliki sejarah tersendiri dibalik penemuannya. Walaupun perubahan warna yang terjadi di kawasan danau telah dibuktikan secara ilmiah, namun tetap saja ada mitos dan rumor mistis yang beredar di masyarakat terkait asal usul Danau Kelimutu.

Nama Kelimutu sendiri jika diartikan akan menjadi gunung yang mendidih. Sejarah Danau Kelimutu berawal pada tahun 1915 dimana warga belanda yang bernama Van Such Telen menemukan danau ini untuk pertama kali.

Kemudian pada tahun 1929, seorang seniman yang bernama Y. Bournan melukis dan menulis tentang danau ini yang membuat banyak orang penasaran. Sejak saat itu banyak orang yang penasaran mulai berdatangan untuk menyaksikan keindahan danau.

Selain pecinta alam, beberapa ilmuwan juga datang untuk meneliti fenomena alam yang hanya terjadi di tempat ini. Hingga akhirnya pada tanggal 26 Februari 1992 kawasan Danau Tiga Warna Kelimutu resmi ditetapkan sebagai kawasan konservasi alam nasional.

Sebelum ilmuwan hadir dan mengungkapkan alasan ilmiah mengapa air danau dapat berubah warna, rumor dan cerita mistis tentang hal tersebut telah menyebar di kalangan masyarakat. Konon katanya sejarah Danau Kelimutu dimula dari Gunung Kelimutu yang ditinggali oleh konde ratu dan rakyatnya.

Dari beberapa rakyat tersebut terdapat dua orang yang dikenal memiliki kekuatan yaitu Ata Polo dan Ata Mbupu. Ata Polo adalah penyihir jahat yang selalu membuat manusia menderita, sedangkan Ata Mbupu adalah seorang penyihir yang dapat menangkal sihir dan hal jahat yang diperbuat oleh Ata Polo.

Kisah sejarah Danau Kelimutu bermula ketika anak yatim piatu meminta perlindungan kepada Ata Mbupu. Permintaan tersebut disetujui dengan syarat anak tersebut tidak keluar ke ladang agar terhindar dari mangsaan Ata Polo.

Namun saat Ata Polo berkunjung dia mencium aroma anak tersebut dan ingin menyantapnya dengan segera. Namun Ata Mbupu mencoba mengulur waktu dan membuat perjanjian dengan Ata Polo.

Ata Mbupu meminta agar anak yatim piatu tersebut tidak mangsa langsung, melainkan saat mereka telah tumbuh menjadi dewasa nanti. Singkat cerita, sejarah Danau Kelimutu berlanjut saat anak kalo atau anak yatim piatu tersebut dewasa.

Saat Ata Polo datang untuk memangsa anak tersebut, Ata Mbupu berusaha menyelamatkannya dengan cara kabur ke dalam perut bumi. Tidak hanya Ata Mbupu, Ata Polo dan anak yatim tersebut juga ikut masuk ke dalam perut bumi.

Saat berada di dalam perut bumi, Ata Polo mengeluarkan air berwarna merah, Ata Mbupu mengeluarkan air berwarna putih, dan anak kalo mengeluarkan air berwarna biru. Cerita sejarah Danau Kelimutu tersebut dinilai menjadi sebuah pertanda bagi masyarakat adat setempat.

Jika air berubah menjadi warna merah maka penduduk mulai berasumsi bahwa kejahatan atau sebuah bahaya akan terjadi. Jika hal ini terjadi, warga Kelimutu akan mengadakan ritual sebagai penangkal musibah yang mungkin akan terjadi.

Cerita sejarah Danau Kelimutu terkait perubahan warna pada air danau juga dijadikan petunjuk terkait aktivitas vulkanis Gunung Kelimutu oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI.  

Baca juga: Taman Nasional Pulau Komodo: Wisata Keajaiban Dunia

Pesona Menarik

Danau Tiga Warna Kelimutu
Danau Tiga Warna , (Photo by manusialembah.com)

Pesona dari Danau Kelimutu yang paling membekas dipikiran masyarakat adalah keunikan tiga warna berbeda dari air danaunya. Menurut mitos masyarakat sekitar, air dari Danau Kelimutu yang terletak di Nusa Tenggara Timur ini dapat berubah – ubah warnanya.

Perubahan warna pada air tersebut disebabkan oleh kadar komposisi mineral serta suhu gas yang ada di dalam danau.

Danau Kelimutu terbagi menjadi tiga bagian sesuai dengan warna airnya, yaitu Tiwu Ata Mbupu untuk danau yang berwarna putih, Tiwu Nua Muri Koo Fai untuk danau yang berwarna biru, dan tiwu Ata Polo untuk danau yang berwarna merah.

Nama tersebut memiliki makna tersendiri dan diberikan sesuai dengan kepercayaan masyarakat tetua sekitar.

Tiwu Ata Mbupu merupakan tempat dari berkumpulnya jiwa orang tua yang telah meninggal, Tiwu Nuwa Muri Koo Fai adalah tempat untuk berkumpulnya jiwa pemuda dan pemudi yang telah meninggal, sedangkan Tiwu Ata Polo merupakan tempat dari berkumpulnya jiwa dari orang yang telah meninggal namun semasa hidupnya mereka sering melakukan kejahatan ataupun hal yang keji.

Menurut kepercayaan masyarakat sekitar Danau Kelimutu, setiap air danau berubah warna maka mereka diharuskan untuk memberikan sesajen untuk arwah dari orang – orang yang telah meninggal.Danau yang ada di kawasan Kelimutu ini memiliki kedalaman yang berbeda – beda.

Tiwu Ata Polo memiliki kedalaman kurang lebih 64 meter dengan luas 4,5 ha, Tiwu Nuwa Muri Koo Fai memiliki kedalaman sekitar 127 meter dan luas 5,5 ha, terakhir Tiwu Ata Mbupu memiliki kedalaman 67 meter dan luas 4 ha.

Tiwu Ata Polo adalah salah satu sumber mata air dari SUngai Ria Mbuli yang berpusat di Gunung Kelimutu. Jika dihitung secara keseluruhan, Danau Tiga Warna Kelimutu memiliki luas kurang lebih 1.5050.000 meter persegi dengan volume air danau sebesar 1.292 juta meter kubik.

Pinggiran danau dibatasi oleh dinding batu sempit yang terjal dengan kemiringan 70 derajat. Dinding danau tersebut memiliki ketinggian antara 50 hingga 150 meter. Namun yang disayangkan dinding batu tersebut cukup mudah longsor. Kawasan Danau Tiga Warna terletak di ketinggian kurang lebih 1.639 meter di atas permukaan laut.

Letaknya yang berada di ketinggian membuat udara disekitar kawasan danau ini dingin dan sejuk. Namun pengunjung tidak diperbolehkan menghabiskan waktu terlalu lama di sekitar danau, karena danau ini menghasilkan gas yang kurang baik untuk kesehatan. 

Tidak hanya menikmati keindahan tiga danau warna dari atas ketinggian puncak Gunung Kelimutu, pengunjung juga dapat menyaksikan keindahan sunrise disela – sela bukit.

Banyak wisatawan yang rela datang dan menunggu fajar demi melihat munculnya matahari yang keindahannya telah tersebar luas itu. Pengunjung juga disarankan untuk membawa minuman hangat favorite sebagai teman menunggu sunrise

Baca juga: Wisata Labuan Bajo: Jembatan Menuju Surga Dunia

.Hal menarik lain yang dapat ditemui di Danau Tiga Warna adalah Festival Pati Ka. Setiap tanggal 14 Agustus Suku Lio mengadakan Festival Pati Ka sebagai ritual adat tahunan.

Nama Pati Ka berarti memberi makan, yang dimaskud memberi makan disini adalah memberi sesajen kepada leluhur Kelimutu yang telah meninggal.

Masyarakat suku Lio percaya bahwa danau tersebut merupakan tempat peristirahatan terakhir dari jiwa yang kembali setelah perjalanan hidupnya telah berakhir. Selama ritual berlangsung, tetua suku Lio akan mengenakan pakaian adat yang berupa ikat kepala dan juga sarung tenun. 

Ritual dimulai dengan pembacaan doa oleh sesepuh suku Lio. Pembacaan doa tersebut dimaksudkan untuk memberkati makanan yang akan dipersembahkan untuk leluhur mereka. Makanan dan minuman tersebut disajikan dalam mangkuk yang dibuat dari tanah liat.

Rombongan pembawa sesaji yang dipimpin oleh tetua adat berjalan menuju lokasi Batu Arwah. Setiap menapaki undakan tangga mereka akan membunyikan gong. Saat sampai di Batu Arwah, rombongan pembawa sesaji dan tetua adat akan duduk melingkar pada tempat berkumpulnya arwah.

Setelah itu ritual berdoa untuk leluhur dimulai. Selanjutnya setelah ritual doa usai, tetua adat akan naik ke atas Batu Arwah untuk menyanyikan lagu tradisional suku Lio sambil diiringi oleh tarian Gawi. Tari ini juga dijadikan pertanda bahwa ritual Pati Ka telah berjalan dengan lancar.

Ritual ini dilakukan juga sebagai wujud rasa syukur atas berkat tuhan yang diterima. 

Baca juga: 8 Wisata Lombok Timur dan Keindahan Panorama Alamnya

ADVERTISEMENT

Rekomendasi buat Anda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *