Benteng Vredeburg Yogyakarta – Tiket dan Sejarahnya

Benteng Vredeburg Yogyakarta
Photo by Arifani Chan
Daftar isi

Sudahkah kalian berkunjung ke Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta? Sebelum ke sana, yuk cari tahu hal-hal seputarnya. Berikut ulasan lengkap mulai dari alamat, fasilitas, harga tiket, sampai sejarah Benteng Vredeburg Yogyakarta.

Kota Pelajar memiliki banyak sekali tempat wisata yang dapat kalian nikmati. Selain wisata alam, wisata kuliner, dan berbelanja, kalian juga dapat berwisata edukasi di kota Yogyakarta.

Yogyakarta memang kota dengan beribu pesona dan sejarah di dalamnya. Tak heran kota ini menjadi tempat favorit bagi para wisatawan. Nuansanya yang masih kental dengan adat istiadat Jawa serta keelokan alamnya yang asri mampu menyihir semua mata.

Banyak orang mengatakan kota ini sangat istimewa dan sulit untuk dilupakan. Di Kota ini kalian bisa berwisata sekaligus menambah wawasan mengenai sejarah yang ada di kota gudeg ini. Salah satu tempat wisata edukasi yang tersohor di Jogja yakni Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. 

Sejarah Benteng Vredeburg Yogyakarta

Benteng ini pertama kali dibangun tahun 1760 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I atas permintaan pihak Belanda yang saat itu sedang dipimpin oleh Nicolaas Harting yang merupakan Gubernur dari Direktur Pantai Utara Jawa.

Artikel Terkait

Maksud pembangunan benteng tersebut yaitu dengan dalih menjaga keamanan keraton dan area sekitarnya. Namun dibalik maksud tersebut ternyata Pemerintah Belanda memiliki tujuan lain yaitu agar dapat dengan mudah mengetahui dan mengontrol setiap perkembangan yang terjadi di dalam keraton.

Saat pertama kali dibangun Benteng ini masih sangat sederhana dengan tembok yang terbuat dari tanah yang kemudian diperkuat dengan tiang penyangga yang terbuat dari kayu pohon kelapa ataupun pohon aren. Dan bangunan bagian dalamnya terdiri atas  kayu dan bambu dengan ilalang sebagai atapnya.

Saat itu Benteng Vredeburg Yogyakarta berbentuk bujur sangkar dimana pada keempat sudutnya terdapat tempat penjagaan yang disebut bastion atau seleka. Sultan Hamengku Buwono I keempat sudut itu diberikan nama masing-masing Jaya Purusa (untuk sudut timur laut),Jaya Wisesa(untuk sudut barat laut),Jaya Prayitna(Untuk sudut tenggara) dan Jaya Prakosaningprang(untuk sudut barat daya).

Pada masa selanjutnya W.H. Van Ossenberg selaku Gubernur Belanda mengusulkan untuk benteng tersebut agar dibangun dengan permanen agar lebih terjaga dan terjamin keamanannya. Tahun 1767 pembangunan Benteng Vredeburg Yogyakarta kembali dimulai dengan pengawasan seorang ahli bangunan yang berasal dari Belanda yakni Ir.Frans Haak.

Pembangunan benteng akhirnya selesai pada tahun 1787 yang cukup memakan waktu hal ini dikarenakan Sultan Hamengku Buwono I juga sedang disibukkan dengan pembangunan keraton yang sedang berlangsung saat itu. Setelah pembangunan benteng tersebut akhirnya benteng diberikan nama “Rustenburg” yang memiliki arti benteng peristirahatan.

Tahun 1867 terjadi gempa yang sangat dahsyat di Yogyakarta yang mengakibatkan kerusakan yang cukup besar pada bangunan benteng. Akhirnya dilakukanlah perbaikan pada benteng, setelah diadakan perbaikan akhirnya nama benteng tersebut diubah menjadi “Vredeburg” yang berarti benteng perdamaian. Hal tersebut juga sebagai manifestasi hubungan antara keraton dan Belanda yang tidak saling menyerang dan baik-baik saja.

Perubahan Status Kepemilikan dan Fungsi Museum Benteng Vredeburg

Museum Benteng Vredebrug
Museum Benteng Vredeburg (Photo by travelinkmagz.com)

Sejak berdiri hingga saat ini benteng mengalami perubahan status kepemilikan dan fungsi diantaranya:

Pada tahun 1760-1765

Awal pembangunan benteng status tanah merupakan milik keraton namun penggunaannya di bawah pengawasan langsung Nicolaas Harting Gubernur Pantai Utara Jawa.

Pada tahun 1765-1788

Status kepemilikan tanah secara normal tetap milik dari keraton akan tetapi penguasa benteng dan tanah dipegang oleh Gubernur W.H. Ossenberg dari pihak Belanda.

Pada tahun 1788-1799

Status tanah tersebut tetap menjadi milik keraton dan benteng digunakan oleh VOC pada masa itu.

Pada tahun 1799-1807

Status tanah tetap menjadi  milik keraton secara formal namun secara de facto membuat benteng tersebut menjadi milik pemerintah Belanda dibawah pemerintahan Gubernur Van De Burg pada saat itu.

Pada tahun 1807-1811

Status tanah tersebut masih milik keraton secara formal  namun secara de facto benteng menjadi milik pemerintah Belanda dibawah pengawasan Gubernur Daendels pada saat itu.

Pada tahun 1811-1816

Benteng menjadi milik keraton secara yuridis namun secara de facto benteng dikuasai oleh pihak Inggris di bawah pengawasan Gubernur Jenderal Raffles.

Pada tahun 1816-1942

Status tanah tetap sebagai milik keraton namun secara de facto dipegang oleh pemerintah Belanda sampai akhirnya Belanda menyerah di tangan Jepang dan kemudian benteng sepenuhnya dikuasai oleh Jepang. Hal tersebut ditandai dengan ditandatanganinya Perjanjian Kalijati Maret 1942 di Jawa Barat.

Pada tahun 1942-1945

Status tanah tetap sebagai milik keraton namun secara de facto dipegang oleh Jepang yang dijadikan sebagai markas tentara kempetai,gudang mesiu serta rumah tahanan bagi para orang belanda serta Indo-Belanda dan juga bagi kaum politisi yang menentang Jepang.

Pada tahun 1945-1977

Status tanah tetap sebagai milik keraton dan setelah Proklamasi Kemerdekaan RI pada tahun 1945 benteng tersebut diambil alih oleh militer RI. Pada Tahun 1948 benteng sempat diambil alih oleh Belanda seemnatra waktu pada saat agresi Belanda kedua dan setelah Serangan Umum 1 Maret tahun 1949 benteng berada dibawah pengelolaan langsung APRI(Angkatan Perang Republik Indonesia). 

Pada tahun 1977-1992

Pada periode ini status pengelolaan benteng tersebut diserahkan pihak Hankam pada Pemerintah Daerah Yogyakarta pada tanggal 9 Agustus 1980 dan diadakan perjanjian mengenai pemanfaatan bangunan bekas Benteng Vredeburg antara Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Mendikbud Dr.Daud Jusuf pada saat itu.

Pernyataan Mendikbud Prof.Dr. Nugroho Notosusanto pada tanggal 5 November 1984 semakin menegaskan bahwa bekas Benteng Vredeburg Yogyakarta akan dimanfaatkan sebagai sebuah museum.

Sri Sultan Hamengku Buwono  mengizinkan perubahan dan perbaikan banguanan sesuai dengan kebutuhan sebagai museum di Tahun 1985 . Akhirnya pada tahun 1987 Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta dibuka untuk umum. Mengenai status dan kepemilikan tanah tetap menjadi milik Keraton Yogyakarta.

Pada tahun 1992 hingga saat ini

Secara resmi Benteng Vredeburg berubah menjadi Museum Khusus Perjuangan Nasional dengan nama Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta yang menempati tanah seluas 46.574 meter persegi Menurut SK Mendikbud RI Profesor Fuad Hasan No.0475/0/1992 pada tanggal 23 November tahun 1992.

Kemudian tgl 5 September 1997 dalam rangka peningkatan fungsionalisasi museum,berdasarkan SK Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: KM.48/OT.001/MKP/2003 tanggal 5 Desember 2003. Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta mendapatkan limpahan secara resmi untuk dapat mengelola Museum Perjuangan Yogyakarta di Brontokusuman Yogyakarta. 

Baca juga: 30 Tempat Wisata Jogja Terhits: Kunjungan New Normal

Mengenang Sejarah melalui Wisata Edukasi Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

Sejarah benteng Vredeburg
Sejarah benteng Vredeburg (Photo by liburanyogya.wordpress.com)

Museeum Benteng Vredeburg ini berlokasi tak jauh dari kawasan Malioboro yakni berada di JL. Margo Mulyo No.6 Ngupasan,Kecamatan Gondomanan,Kota Yogyakarta. Ketika memasuki kawasan Museum Vredeburg Yogyakarta ini kalian akan melihat halaman luar dan halaman bagian dalam Benteng Vredeburg ini yang sangat luas.

Benteng Verdeburg ini dijadikan tempat study tour bagi anak-anak sekolah. Selain menjadi tempat wisata para pengunjung juga dapat menambah wawasan sejarah. Bangunannya yang berwarna serba putih ini membuat para wisatawan tertarik untuk berfoto-foto di setiap sudut bangunan.

Arsitektur bangunanya terlihat begitu indah dan masih tetap terawat walaupun telah lama berdiri. Saat berwisata ke Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta ini kalian akan diajak berkeliling 4 diorama yang menyajikan informasi mengenai sejarah perjuangan Indonesia dari saat penjajahan hingga setelah merdeka.

Saat memasuki kawasan museum kalian akan mendapati patung para pahlawan dan replika Tugu Yogyakarta serta replika meriam yang akan anda jumpai di Benteng Vredeburg Yogyakarta. Di tempat ini kalian bisa berfoto dengan latar belakang meriam dan latar belakang tugu jogja yang biasanya banyak digunakan pengunjung sebagai spot berfoto.

Museum Vredeburg Yogyakarta ini juga merupakan saksi bisu perjuangan Bangsa Indonesia pada zaman dahulu. Benteng ini ternyata menyimpan banyak sekali kisah dan perjuangan mengenai perjuangan bangsa. Pada saat weekend Museum Vredeburg Yogyakarta ini akan sangat ramai pengunjung. Mereka asyik mengelilingi kawasan museum sembari mencari spot foto terbaik di dalam maupun diluar gedung.

Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta ini terlihat gagah dan megah. Serta sejarah Benteng Vredeburg Yogyakarta ini sangat luar biasa. Untuk kalian yang sedang berwisata di selain dapat berwisata kalian juga akan mendapatkan wawasan yang banyak mengenai sejarah. Sejarah Benteng Vredeburg Yogyakarta ini dapat kalian dapatkan ketika memasuki museum, dengan mendapatkan informasi yang lengkap serta merasakan sendiri bagaimana nuansa bentang tersebut.

Wisata yang sangat mengasyikkan untuk dikunjungi bersama keluarga. Terlebih informasi mengenai Sejarah Benteng Vredeburg ini sangat baik untuk dikenalkan pada anak kecil ataupun anak sekolah agar mengetahui mengenai sejarah dan hal apa saja yang ada di Benteng Vredeburg Yogyakarta ini.

Pada bagian dalam Museum Vredeburg Yogyakarta terdapat diorama yang dibuat dengan tujuan memberikan informasi dan edukasi pada pengunjung. Pada setiap koleksinya menceritakan dan menggambarkan berbagai kisah berbeda yang terjadi dimasa lalu mulai dari masa penjajahan, masa perjuangan,gerakan 30 S PKI,Proklamasi Kemerdekaan hingga pada masa orde baru.

Semua diorama diletakkan terpisah pada sebuah kotak kaca yang dipajang secara berjejer. Selain itu terdapat seragam tentara pertama,lukisan hingga foto-foto mengenai perjuangan Bangsa Indonesia dalam upaya mendapatkan dan mempertahankan Indonesia.

Koleksi benda bersejarah juga dapat kalian temukan di dalam Museum Vredeburg Yogyakarta ini. Beberapa koleksi realia diantaranya : senjata,peralatan dapur,naskah,peralatan rumah tangga,sepatu,peralatan minum yang terbuat dari tembikar,keramik dalam bentuk teko dan gelas.

Benda -benda tersebut merupakan benda yang nyata yang digunakan pada zaman dahulu ataupun alat yang digunakan saat peristiwa bersejarah terjadi. Jadi semua koleksi tersebut merupakan nyata dan bukan tiruan.

Di bagian dalam Museum Vredeburg Yogyakarta terdapat ruangan diorama I dan diorama I dimana di tempat tersebut kalian akan mendapatkan banyak informasi bersejarah mengenai perjuangan panjang Bangsa Indonesia serta kalian akan menemukan sebuah sarana interaktif dengan fasilitas touchscreen yang berada disekitar koleksi-koleksi diorama.

Dengan adanya media tersebut kalian bisa mengetahui peristiwa yang terjadi secara detail dan lengkap. Ada juga ruangan yang didalamnya diputar film dokumenter serta film-film perjuangan yang dapat kalian saksikan.

Di Sekitar kawasan lapangan kalian dapat melihat beberapa patung tentara jepang,patung para pejuang Indonesia dan juga patung pria jawa dengan wajah ramah. Disini kalian bisa mengambil foto dan berpose dengan patung-patung tersebut. Tempat ini juga sangat cocok untuk anak kecil karena juga terdapat taman bermain yang bisa digunakan agar tidak merasa bosan.

Sebelum kalian berkunjung ke Benteng Vredeburg Yogyakarta ini sebaiknya kalian menyiapkan topi,kacamata serta memakai sunblock karena saat siang hari matahari akan sangat terik dan panas. Untuk itu sebaiknya jangan berkunjung pada siang hari agar kalian dapat menikmati suasana Benteng Vredeburg Yogyakarta ini dengan nyaman bersama keluarga.

Fasilitas yang ada di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

Media Interaktif

Terdapat sarana interaktif pada Diorama I dan II yang berupa media layar sentuh. Para wisatawan dapat menggunakannya untuk mengetahui informasi dan sejarah mengenai suatu peristiwa secara detail dan lengkap.

Ruang Pengenalan

Ruangan ini digunakan sebagai studio mini yang berkapasitas kurang lebih 50 orang. Ruangan ini juga berfungsi untuk memutar film dokumenter dengan durasi kurang lebih 10-15 menit. Di tempat ini para pengunjung dapat beristirahat sembari menikmati film dokumenter sebelum melanjutkan ke ruang diorama.

Ruang Audiovisual

Ruangan ini berada di Gedung F lantai 2. Disini para pengunjung dapat menikmati sebuah film mengenai Sejarah Museum Vredeburg Yogyakarta serta koleksi film-film yang dimiliki museum ini. Film tersebut akan diputar setiap hari Jumat pukul 13.00 WIB dan juga hari Minggu pada pukul 10.00 WIB dan 13.00 WIB. setiap penayangan akan dilakukan setiap bulannya dengan film yang berbeda pula.

Harga Tiket Masuk Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

Anak-anak : Rp 2000

Dewasa : Rp 3000

Turis Asing: Rp 10.000

Demikian informasi mengenai Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta yang dapat advontura sampaikan. Semoga dengan informasi dan penjelasan di atas dapat bermanfaat dan membantu kalian semua sebelum berwisata edukasi di Kota Jogja. Selamat berwisata di Kota Jogja.

Baca juga: Wisata Candi Borobudur – Sejarah Hingga Harga Tiket

ADVERTISEMENT

Rekomendasi buat Anda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *